Wednesday, December 30, 2009

The Stone Cafe & Resto

Sabtu, 19 Desember 2009, 7.44 WIB, Cigadung, Bandung.

Lagi long weekend di Bandung, dan malam-malam ingin makan yang sedikit 'established' :-). Bersama keluarga terpilihlah resto ini, karena kunjungan sebelumnya lumayan bagus view ke arah Bandungnya, terutama menjelang magrib, karena warna langitnya kadang-kadang puitis melukis cakrawala kota Bandung.



Food Score:
Harga : 8, ya ada rasa ada harga. Kebetulan milih sop buntut goreng, seporsi sekitar 48.000an, plus Bajigur 10.000an. Rata-rata per person sekitar Rp.100.000an.
Sajian: 9, karena ada tungku pemanasnya, jadi ngga perlu makan rada cepetan karena takut nggak panas lagi sopnya. Bajigur juga disajikan dengan cangkir yang terbuat dari bambu. Service waitress nya juga lumayan ramah dan ok.
Rasa: 8, lumayan empuk, tapi belum mengalahkan rasanya sop buntut hotel Borobudur Jakarta...
Lokasi: 9, standar kaki lima.
Repeat: iya, tapi nggak sering-sering...mungkin cocok buat romantisan di gazebonya hehe..

Nasi Goreng Kebon Sirih

Selasa, 17 November 2009, 19.58 WIB, Jalan Kebon Sirih, Jakarta

Sehabis meeting, kebetulan lewat depan Sarinah, dan taxi saya minta belok ke Kebon Sirih. Perut sudah tidak bisa berkompromi lagi. Sudah bertahun-tahun nggak ke tempat ini lagi, terakhir di tahun 2002-2004an. Nasgor ini sudah lama jadi rekomendasi tempat kuliner Jakarta yang wajib dikunjungi.





Food Score:
Harga : 8 (cocoklah) 15.000 rp untuk sepiring nasi goreng kambing + 5 tusuk sate (yang ini harganya lupa). Minumnya teh botol. Total sekitar 56.000, karena bungkus 2 porsi nasi goreng, hehe.
Sajian: 8, menyegarkan, apalagi sekarang ada tambahan salad seperti asinan.
Rasa: 8 bold saminnya, dengan potongan emping.
Lokasi: 7, standar kaki lima.
Repeat: Iya..karena rasanya lumayan berbeda..

Thursday, July 23, 2009

A Place for Urban Socialita: Taman Ayodya

Rabu, 8 Juli 2009, 5.00 WIB, Taman Ayodya, Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.



Ayzar really enjoyed the ambiance, he became an urban Socialita







Urban Park ini benar-benar jadi tempat jeda sejenak di tengah-tengah kota. Disponsori oleh Indosat, taman ini jadi lebih berfungsi dan bermanfaat dibandingkan yang dulu. Setelah dulunya dipakai sebagai salah satu sumber air (katanya) di kawasan Barito ini, dan kemudian berubah fungsi dengan dikelilingi oleh kios-kios penjual bunga dan ikan. Untung pemda bisa mengambil inisiatif untuk mengubahnya kembali menjadi taman kota dengan node sebuah water body. Kalau bicara design style, ntar dulu ah, yang penting desain sekarang terpakai dan berfungsi.

Datanglah sore-sore hari jumat, sabtu dan minggu, benar-benar jadi destinasi baru buat warga untuk beristirahat dan bersosialisasi, bahkan berkarya. Coba semua taman-taman per distrik Jakarta direhabilitasi kembali menjadi taman yang sebenarnya...dan taman itu lalu menjadi tengaran dan orientasi kota.. Jakarta menjadi lebih menyenangkan! Taman yang terbuka buat warga, 24 jam bisa diakses, tanpa pagar! Taman aktif, bukan taman pasif, bos.. Taman yang bisa disentuh dan diraba, bukan cuma dilirik.

Moga-moga penanganannya benar dan berkelanjutan. Pedagang kaki lima dibatasi, parkir mobil dan sepeda motor ditata dan tidak mengganggu traffic sekitarnya. Mumpung masih baru, jangan ragu untuk usir kaki lima yang permanen.


Sate Kambing Tegal Ibu Minah Gandaria

Jumat, 17 Juli 2009, 21.29 WIB, Jalan Gandaria Tengah III, seputaran Barito.



Sate Kambing Tegal Ibu Minah letaknya di Jalan Gandaria Tengah III, dekat dengan sekumpulan tempat kaki lima di daerah pinggiran Makam Wakaf Gandaria. Kaki lima yang spesifik dan enak di lokasi ini adalah Nasi Bakar, Tahu Slawi dan Tempe Mendoan, Martabak Manis Bandung, Bubur Barito dan dulu pernah ada Lumpia Semarang (sekarang sudah ngga ada lagi). Semuanya itu recommended lho..!


Food Score:
Harga : 8 (cocoklah) 20.000 rp untuk 10 tusuk sate + nasi 3.000 rp. Minumnya teh poci 4.500 rp dengan teko dan cangkir tanah liat (perfect match, lengkap bleh..!)
Sajian: 8, very tempting, ada potongan tomat fresh, sate ditusuk dengan belahan bambu yang besar, potongan dagingnya besar, dan empuk pula. Tidak bau kambing, gajihnya juga tidak lengket di lidah.
Rasa: 9 a bit perfect, dengan bumbu kacang dominasi kecap dan potongan-potongan kecil cabe nya... wuihh!
Lokasi: 7, standar kaki lima.
Repeat: Ya iyalah..Ya iya dong..! habis itu olah raga.

Sate Ayam Pondok Indah

Rabu, 8 Juli 2009, 17.30 WIB

Sate Ayam Pondok Indah; sebenarnya mau makan mie yamin Pak Memet di Pondok Indah, dekat bunderan kecil perempatan jalan ke Deplu dan Kartika Utama. Sore-sore, berasa lapar, apalagi setelah lelah nyupir. Tap karena sudah jam 5 sore, passss banget mie yamin-nya habis. Masih ada orang yang menghabiskan sisa-sisa mie di mangkoknya. Pilihan jatuhlah ke Sate Ayam yang masih mengepulkan asapnya yang semerbak.




Food Score:

Harga : 8 (cocoklah) 14.000 rp untuk 10 tusuk sate + nasi/ lontong.
Sajian: 7, biasa saja, namanya juga sate.
Rasa: 8, potongan dagingnya lumayan besar, ngga nanggung. Bumbu kacangnya banyak dan enak, tapi sometime terlalu manis (habis dikasih kecap lagi hehe).
Lokasi: 7, standar kaki lima.
Repeat: Ya iyalah..

Monday, July 6, 2009

Nasi Bebek Ginyo @ Veteran Bintaro

Minggu, 5 Juli 2009 20.45 WIB, Jalan Veteran Bintaro



Sehabis belanja bulanan, perut lapar, karena memang belum makan malam sampai jam 8 lebih. Pilihan maunya ke K5, nasi pedas yang kalau lewat keliatan ramai terus. Setelah parkir dipinggir jalan, lihat-lihat menu-nya, ala prasmanan. Eh pas mau sudah ambil piring, nasinya kehabisan. Jadinya pilihan jatuh ke seberangnya Nasi Bebek Ginyo. Dalam hati, apa ini bebek yang bisa mengalahkan bekgor Slamet? Ternyata sampai masuknya, sudah pada habis, tapi masih ada untuk bebek gorengnya. Yas sudah. Tidak ada pilihan, pilih saja itu plus es teh manis.

Terus, biasa, standar resto, ada testimonial para artis-artis...


Food Score:

Harga : 7.5 (ya lumayan gurih bebeknya) 17.000 rp untuk 1 potong bebek + 5000 rp untuk sepiring nasi (lebih mahal daripada bekgor Slamet).

Sajian: 7, biasa saja, nggak se-khas bekgor Slamet.

Rasa: 7.5, lumayan, sambal ijo nya juga lumayan, tapi ngga se-khas bekgor Slamet (hehe).

Lokasi: 7.5 okelah, bersih...tapi lebih keliatan restonya daripada bekgor Slamet.

Repeat: Masih okelah..

Pasta de Waraku

Sabtu, 4 Juli 2009 19.00, Foodcourt Promenade PIM2





Puter-puter cari makan malam di PIM2, bingung. Foodcourt rame. Akhirnya dipilihlah Food Promenade-nya, yang pastinya lebih mahal. Pilihan jatuh ke Pasta de Waraku, pasta ala Jepang katanya. Pertama kali lihat resto ini ada di Grand Indonesia. Ciri khasnya, dia buat interior dari susunan replika piring-piring dan isinya dari menu mereka. Sebetulnya ngga nafsu, karena ya itu tadi lihat harganya, it is not realy "my lifestyle" type. Tapi karena sama keluarga, ya nurut saja..

Food Score:

Harga: 5 (ada yang bilang harganya sesuai dengan rasanya, tapi menurut saya biasa saja. 60.000 rp untuk sepiring pasta. Piringnya sih besar, isinya sedikit.. 15.000 rp buat segelas ice lemon tea.

Sajian: 8 oke, kalau ngga ya kebangetan.

Rasa: 7-8, so so, apa sudah kebawa ngga sreg karena lihat harganya ya..hehe.

Tempat: 7, biasa saja, mestinya interiornya lebih menjiwai gitu..kurang khas (kecuali display replika piring dan isinya).

Repeat: hmm.. ngga.